Kenal dengan Om Gordon Ramsay? Kenal, dong! Pemain sepak bola yang pensiun sebelum debut. Lho, kok pemain sepak bola? Bukannya dia koki kelas dunia yang terkenal banget?! Kuy, kita telusuri sebentar jejaknya yang berliku hingga sampai diposisinya saat kini. Kebanyakan orang yang meneruskan membaca tulisan ini, akan mencoba mencari ulang biodata dan garis takdir Om Gordon. Hihihi…iya, kan?!

Ramsay keranjingan bermain bola sejak kecil. Bahkan ketika berumur 15 tahun, ia bergabung dengan sebuah klub bola profesional Glasgow Rangers di negaranya. Namun, pada tahun 1985, kedekatan pria kelahiran 8 November 1966 itu dengan dunia si kulit bundar harus terhenti. Ramsay mengalami cedera lutut cukup parah, yang membuatnya tak bisa lagi melanjutkan karier sebagai pemain sepak bola.

Mengatasi hal itu, Ramsay lantas mencari cara untuk tetap bisa melanjutkan hidupnya. Maka, ia memutuskan kembali ke sekolah, mendapatkan gelar, dan akhirnya diterima bekerja dalam bagian manajemen sebuah hotel pada tahun 1987. Dari situlah karier masak-memasaknya dipupuk. Maka, siapa sangka, dibalik petaka yang mengharuskannya berhenti menjadi pemain sepak bola, hidup ternyata menyiapkan Ramsay pada banyak kejutan.

Hidup yang dipenuhi kejutan bukan hanya menjadi milik Ramsay. Hidup Ramsay adalah hidup kita. Terlebih saat pandemi melanda. Seolah, kejutannya semakin tak dapat diprediksi. Dalam titik ini, seisi dunia merasakan keterpurukan. Namun, semesta menyiapkan kita untuk dapat bangkit. Kenali dan kendali adalah cara untuk menjawab ketidakpastian. Beradaptasi, pada sesuatu yang bisa kita sukai, pahami dan usahakan. Sehingga, memunculkan letupan-letupan potensi baru. Potensi letupan dari dalam yang luar biasa dalam situasi saat ini, bernama hobi. Hobi menjadi alternatif penyelamat,
penyembuh, maupun pencapaian baru seseorang, dalam gelombang ketidakpastian yang panjang.

Hobi saya, apa ya? Semua orang memiliki hobi, hanya saja cara menggalinya berbeda. Hobi, seakan melihat masalah menjadi peluang dan tantangan tersendiri. Ramsay melihat peluang dari kemampuan memasaknya, dan menantang dirinya untuk mencoba hal lain dengan mengembangkannya. Tentu saja, untuk sampai di sana ada yang harus digarisbawahi, pahamilah mengelola hobi dengan baik dan benar. Salah satunya dengan tetap konsisten tak putus belajar, layaknya Ramsay kembali bersekolah setelah cedera. Belajar menjadi tempat yang menyuburkan hobi, membantu menemukan apa yang disukainya sekaligus jalan kariernya.

Orang yang bekerja dengan hobi, atau menjadikan hobi sebagai profesi cenderung akan lebih kreatif. Sebab, ia akan mencari ide terbaru untuk dapat mengeksplor pekerjaannya. Tak melulu tentang menanjak ke atas, bisa jadi justru akan melebar ke samping. Maka, tidak heran jika pekerjaan yang dilakoni dapat menghasilkan sesuatu yang tidak terduga sebelumnya. Orang yang bekerja karena hobi
akan melakukannya dengan bahagia, dan cenderung dapat menghasilkan ide-ide yang menarik. Bahkan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih dari yang dibayangkan.

 

Rajin mengunyah di tempat kekinian? Siap ambil bagian jadi food vlogger.

Senang berbagi tips bermain game? Bisa dicoba menjadi influencer esport.

Rutin berolahraga hingga atletis? Konten kreator olahraga, oke juga!

Skin care di rumah bejibun? Review, deh! Colek labelnya, biar jadi ladang endorse.

Hobi mendengarkan KPop? Buat dan jual merchandise sendiri di toko online.

Jago cas cis cus bercerita? Sudah disambut podcast dan akun youtube gratis.

Banyak baju kece di lemari? Yuk, bikin outfit of the day biar jadi inspirasi.

Canggih dalam menulis? Gabungkan dengan visual yang oke! Voila, mahakarya!

Rajin piknik ke minimarket? Buat konten bedah produk yang seru-seru juga bisa!

Sayang dengan hewan peliharaan? Tumbuhkan dan sebarkan jiwa penyayang.

 

Bila saat ini hobi yang kita sukai belum menjadi jembatan profesi sekelas Om Gordon, setidaknya kita tak berhenti di ranah konsumsi. Mereka yang bangkit seiring dengan membaiknya kondisi pandemi, rerata berhasil menemukan kunci gerbang eksplorasi dan inovasi produksi. Roda zaman selalu menyediakan tantangan sekaligus kejutan bernama peluang dan kesempatan. Sayang, bila terlewat apalagi luput dimanfaatkan, bukan begitu?

 

Nunik Rahmania
Hobi menulis dan tinggal di Depok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *